Bestuur van Stichting Bali Abdi Samasta
Made Aniadi – Van Zuidam – Voorzitter
Mijn naam is Made Aniadi – van Zuidam, geboren op 9 maart 1962 in Singaraja. Ik woon inmiddels 39 jaar in Nederland en ben moeder van twee dochters, beiden Balinees. Al van jongs af aan ben ik actief als vrijwilliger bij tempelactiviteiten. De tempel geeft mij een gevoel van rust, verbondenheid en vreugde. Ik hou van sociaal contact, van mensen helpen en van cultuur. Sociaal werk loopt als een rode draad door mijn leven, vooral voor mensen die ondersteuning nodig hebben. Jarenlang werkte ik als zelfstandig zorgverlener en daarnaast leidde ik meer dan 25 jaar een stichting voor Balinese dans. Deze is inmiddels overgenomen door mijn dochter. Op de achtergrond blijf ik hierbij betrokken, maar ik heb nu bewust gekozen om mij volledig te richten op Stichting Bali Abdi Samasta, die speciaal is opgericht voor de tempel, bijbehorende activiteiten en samenwerkingen. Meer over het ontstaan kunt u lezen in het menu Geschiedenis.
Luh Ayu Silayanti Polak – secretaris
Mijn naam is Luh Ayu Silayanti Polak. Roepnaam Ayu Polak. Ik ben geboren op 8 maart 1985 in Singaraja en heb Balinese wortels. Opgegroeid met twee culturen heb ik van jongs af aan een diepe verbinding met de Balinese cultuur en religie. Spiritualiteit stroomt door beide bloedlijnen en in tempels en tijdens ceremonieën voel ik mij thuis. Mijn achtergrond is divers en creatief. In mijn werk staan verbinding, het doorgeven van kennis en bewustwording centraal, onder andere via filmproducties en dansmeditaties. Dat ik vorig jaar gevraagd ben voor de rol van secretaris binnen deze stichting ervaar ik als bijzonder en betekenisvol. Alles komt hier samen. Het voelt alsof ik mijn Dharma leef.
Franciscus Wilhelmus Martinus Gerritsen – Penningmeester
Eind 2024 vroeg Made Aniadi mij of ik penningmeester wilde worden van een stichting met als doel het realiseren van een Balinese tempel voor de gemeenschap in Nederland, met als missie het beoefenen en versterken van de Balinese religie en cultuur en deze door te geven aan de volgende generaties. Die vraag raakte mij. Ik leerde Made kennen in de laatste levensjaren van mijn moeder, toen zij als zorgverlener bij haar betrokken was. In die periode sprak Made over haar wens om een Balinese tempel te realiseren. Mijn moeder, zelf een spiritueel mens, zei toen overtuigd: “Die tempel komt er wel.”
Toen Made mij later vroeg de administratie van de stichting op mij te nemen, voelde dat als een vanzelfsprekende stap, alsof ik handelde in de geest van mijn in 2024 overleden moeder. Hoewel ik zelf nog niet in Indonesië ben geweest en geen Balinese achtergrond heb, herken en waardeer ik de innerlijke waarden van het Balinees hindoeïsme en vind ik het zeer interessant. Daarnaast doe ik veel sociaal werk, werk ik in de zorg en heb ik net als Made Aniadi eerder in een stichting gewerkt. Vanuit die gedeelde waarden en ervaring zet ik mij met overtuiging in voor deze stichting, en in de toekomst zal ik zeker naar Bali reizen.
🇮🇩 Pengurus Yayasan Bali Abdi Samasta
Made Aniadi – Van Zuidam – Ketua
Nama saya Made Aniadi – van Zuidam, lahir pada 9 Maret 1962 di Singaraja. Saat ini saya telah tinggal di Belanda selama 39 tahun dan merupakan ibu dari dua orang putri, yang keduanya berdarah Bali.
Sejak usia muda, saya telah aktif sebagai relawan dalam berbagai kegiatan di pura. Pura memberikan rasa ketenangan, kebersamaan, dan kebahagiaan bagi saya. Saya menyukai interaksi sosial, membantu sesama, serta melestarikan budaya.
Kegiatan sosial telah menjadi benang merah dalam perjalanan hidup saya, terutama dalam mendampingi dan membantu orang-orang yang membutuhkan dukungan. Selama bertahun-tahun saya bekerja sebagai tenaga pelayanan kesehatan secara mandiri. Selain itu, selama lebih dari 25 tahun saya memimpin sebuah yayasan yang bergerak di bidang seni tari Bali. Yayasan tersebut kini telah diteruskan oleh putri saya. Saya tetap terlibat di belakang layar, tetapi saat ini saya dengan sadar memilih untuk sepenuhnya memusatkan perhatian pada Yayasan Bali Abdi Samasta, yang secara khusus didirikan untuk pura, berbagai kegiatannya, serta kerja sama yang berkaitan dengannya.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai latar belakang berdirinya yayasan ini, silakan membaca bagian Sejarah.
Luh Ayu Silayanti Polak – Sekretaris
Nama saya Luh Ayu Silayanti Polak, biasa dipanggil Ayu Polak. Saya lahir pada 8 Maret 1985 di Singaraja dan memiliki darah keturunan Bali.
Tumbuh dalam dua budaya membuat saya sejak kecil memiliki hubungan yang mendalam dengan budaya dan agama Bali. Spiritualitas mengalir dalam kedua garis keturunan keluarga saya. Di pura dan dalam berbagai upacara keagamaan, saya merasa berada di tempat yang dekat dengan hati saya.
Latar belakang saya beragam dan kreatif. Dalam pekerjaan saya, nilai-nilai seperti membangun hubungan, meneruskan pengetahuan, dan meningkatkan kesadaran menjadi hal yang penting. Hal tersebut saya lakukan antara lain melalui produksi film dan tari meditasi.
Ketika tahun lalu saya diminta untuk menjalankan peran sebagai sekretaris dalam yayasan ini, saya merasakan hal tersebut sebagai sesuatu yang istimewa dan penuh makna. Di sinilah berbagai bagian dari perjalanan hidup saya seakan menyatu. Rasanya seperti saya sedang menjalani Dharma saya.
Franciscus Wilhelmus Martinus Gerritsen – Bendahara
Pada akhir tahun 2024, Made Aniadi bertanya kepada saya apakah saya bersedia menjadi bendahara sebuah yayasan yang bertujuan mewujudkan sebuah pura Bali bagi komunitas di Belanda. Misinya adalah menjalankan dan memperkuat agama serta budaya Bali, sekaligus meneruskannya kepada generasi-generasi berikutnya.
Pertanyaan tersebut menyentuh hati saya. Saya mengenal Made pada tahun-tahun terakhir kehidupan ibu saya, ketika Made merawat dan mendampingi beliau sebagai tenaga pelayanan kesehatan. Pada masa itu, Made sering berbicara mengenai keinginannya untuk mewujudkan sebuah pura Bali. Ibu saya sendiri adalah seorang yang sangat spiritual dan pada saat itu dengan penuh keyakinan berkata: “Pura itu pasti akan terwujud.”
Ketika kemudian Made meminta saya untuk menangani administrasi yayasan, saya merasakan bahwa hal tersebut merupakan langkah yang alami dan bermakna. Seolah-olah saya melakukannya dalam semangat dan mengenang ibu saya, yang telah meninggal dunia pada tahun 2024.
Meskipun saya sendiri belum pernah berkunjung ke Indonesia dan tidak memiliki latar belakang Bali, saya mengenali dan menghargai nilai-nilai batin yang terkandung dalam agama Hindu Bali dan merasa sangat tertarik untuk mempelajarinya lebih jauh.
Selain itu, saya aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan bekerja di bidang pelayanan kesehatan. Sama seperti Made Aniadi, saya juga memiliki pengalaman bekerja dalam sebuah yayasan.
Berangkat dari nilai-nilai yang kami bagi bersama serta pengalaman tersebut, saya berkomitmen untuk memberikan kontribusi dengan penuh keyakinan kepada yayasan ini. Dan in the future, saya tentu akan melakukan perjalanan ke Bali.
